“I hate people” she said

Aku membenci semua orang, sesimpel aku membenci angin yang mengacaukan rambutku. Aku membenci semua orang, sesimpel aku membenci diriku sendiri.

Kecuali…

“Taraaa!”

“Iya, Maaaa!”

Mama. Cuma dia yang aku punya di dunia ini. Tapi sungguh, aku benci kehidupan. Kenapa harus ada kehidupan, kenapa harus ada sebuah awal, kenapa harus ada pertemuan… jika akhirnya kami selalu ditinggalkan?

“Sini!”

Aku beranjak dari kasur, meniti satu per satu ubin kayu rumahku menuju kamar mandi tempat mama mencuci semua pakaian kami. Ya, mama selalu begitu setiap pagi. Ini masih jam 10, aku belum tergerak untuk bangun, habisnya akhir minggu, ngapain?

“Kamu ini! lagi-lagi lupa ya naruh permen karet di saku kemeja, lengket ni jadinya. Rusak lama-lama semua baju kamu.”

“Nggak apa-apa, Ma. Cuma baju.”

“Hmmm, kapan pameran lagi kamu?”

Aku beringsut meninggalkan mama sendiri.

“Tar ah Ma, hari minggu jangan ngomongin kerjaan dulu ya, Tara puyeng.”

Pernahkah kamu mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan random soal hidup?

Seperti, eksistensi kita di dunia?
Kenapa terlahir sebagai aku, bukan dia, atau mereka?
Kenapa aku terlahir dengan nama ini, bukan itu, atau yang lain?
Kenapa namaku Tara, bukan Angel atau Rara atau Wanda?
Kenapa hidupku seperti ini, bukan seperti mereka?
Kenapa kakiku berukuran segitu, bukannya lebih kecil atau lebih besar?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul tapi aku tidak menemukan jawaban apapun. Tidak ada yang bisa menjawab. Sampai suatu ketika seseorang datang…

“Kamu suka kopi?” tanyanya

“Tidak.”

“Suka teh?”

“Tidak juga.”

“Lalu? Mau minum apa nih?”

“Massss, air mineral satu ya.” Aku berteriak ke arah pelayan

“Oooh iya mba.” sahutnya

“Ye, kan mau aku pesenin.”

“It’s okay.”

Aku bertemu dia di tempatku bekerja freelance, aku seorang illustrator untuk Digital Agency tempatnya bekerja. Dia seorang content writer. Kami banyak terhubung karena pekerjaan, menghabiskan banyak waktu untuk membahas konten, kebetulan dia juga lebih sering bekerja remote.

Dia adalah seseorang yang rela memakaikan jaketnya padaku meski cuaca sedang dingin-dinginnya. Dia adalah seseorang yang rela membiarkan bahunya disandari meski sedang lelah-lelahnya.

Dia, teman yang cukup baik.

Beberapa minggu berlalu. Dia bercerita banyak hal menarik tentang hidupnya, dia bercerita tentang banyak hal yang dia coba, kenakalan-kenakalan remaja pada umumnya. Seperti bolos ketika sekolah, coba minum alkohol, sampai main ke tempat clubbing diam-diam.

“Kenapa kamu cobain itu semua? Kapan terakhir kamu minum alkohol?” Tanyaku.

“Seru aja, challenging, biar ngerasain aja, ada pengalaman, ada bahan obrolan sama temen-temen. Terakhir sebenarnya… beberapa bulan lalu sih.”

“Stupid.”

“Why? Baru kali ini ya kamu punya temen nakal?”

“Yap! Temenku lurus semua.”

“Coba deh, besok aku kasih wine, diminum ya.”

“Nope.”

“Why?”

“Ngga mau aja ada barang haram masuk tubuhku.”

“Ah, ngga seru kamu!”

“Emang. That’s the point of my self. Ngga seru.”

“Baper deh.”

“No. Males aja terlalu terbawa arus. Ngga punya prinsip.”

Dia mengetuk jemarinya di atas meja, lalu mengarahkan pandangannya padaku.

“Kamu, apa yang kamu tau soal hidup?”

“Membosankan.”

“Kenapa?” tanyanya, aku diam. Dia melanjutkan…

“Actually, kamu yang bikin hidupmu membosankan.”

“Kenakalan-kenakalan yang kamu lakukan itu efek bahagianya cuma sementara. Juga ngerusak mental health dan organ dalam kamu. So for what?”

Dia terdiam…

Aku meliriknya perlahan.

“Dion…”

“Ya?” sahutnya

“Kenakalan apa yang belum pernah kamu lakuin?”

Dia mengarahkan pandangannya padaku.

“Having sex with someone”

“WHAT? AHAHAHA”

“You did?”

“Belom. Itu juga efek bahagianya sementara. Percuma.”

“Hahaha…”

Kita tertawa dan mengobrol tentang banyak hal, tentang buku, tentang nomor sepatu,  hingga tentang berapa hari sekali dia memotong kuku.

Dia dengan hidupnya yang menyenangkan, aku dengan hidupku yang memuakkan. Cerita tentangnya seperti kaset yang tidak pernah habis pita, selalu menarik untuk didengar, tanpa perlu bumbu tambahan, tanpa perlu drama-drama tak berkesudahan. Dia menarik, dengan apa adanya dia.

Semakin hari, aku semakin merasa nyaman. Tidak terhitung lagi berapa lama aku menghabiskan waktu berdua dengannya. Berapa kilometer jauhnya jalan yang pernah kita tempuh berdua. Berapa banyak kerlingan mata saling curi pandang, berapa kali tangan kita tak sengaja bersentuhan dan berakhir canggung.

And now, I still hate people, but, God…

I love him.

Nyatanya aku jatuh cinta, sesimpel gigitan pertama pada cokelat favoritku. Candu.

Mata dan rasa

Agaknya benar, jatuh cinta dimulai dari mata.

Aku jatuh cinta pada mata yang meneduhkan.
Mata yang membuatku merasa bersalah telah menatapnya dalam-dalam.
Mata yang seolah membawaku berjalan pelan di antara udara dingin, di antara dedaunan hijau, di antara perbukitan, di antara sungai-sungai yang mengalir di bawah kakiku, di antara suara kicauan burung-burung kecil yang bersiul sahut menyahut.

Mata yang membawaku berlabuh pada satu sudut bukit berkabut dan tenang.

Mata yang damai.

Damai…

Da… mai…

sssshhhh…

 

 

Hari Ini Mataku Sedikit Basah

Playlist of the day:

Hari ini, hari yang cukup membosankan, banyak hal aneh datang ke pikiranku. Ada beberapa saat ketika aku benar-benar ingin hilang saja. Ada juga hal-hal yang membuatku tetap bertahan.

Aku berusaha keras untuk menjadi seseorang yang bisa diandalkan. Aku berusaha keras untuk bisa memenuhi segala kebutuhan keluargaku. Aku ingin bisa menjadi tempat bergantung yang kuat dan tepat. Aku ingin mengatakan pada mereka…

“Tenang, kita baik-baik saja. Ada aku. Aku punya kaki yang kuat untuk melangkah jauh. Aku punya bahu yang lebar untuk menopang segala beban. Aku punya telapak tangan yang luas untuk membuat segalanya jadi lebih mudah. Jadi tolong, jangan khawatirkan apapun.”

Tapi hatiku bilang…

“Cih! Dasar pecundang! Nggak bisa apa-apa!”

Kadang aku berfikir, seandainya aku terlahir menjadi seorang anak laki-laki pasti aku bisa melakukan lebih… lebih baik, lebih jauh, dan lebih banyak hal.

“Sampai kapan ya begini terus?” Terang mama

“Sebentar lagi, Ma…”

Hari ini, entah kenapa, di tengah-tengah padatnya pekerjaan, saat kuputar playlist “Breathe-Lee Hi”… mataku menjadi sedikit basah.

Apa aku bekerja terlalu keras? Apa aku sudah melakukan hal yang benar?

Adakah seseorang yang bisa menepuk bahuku sambil bilang…

“You did well.” ?

 

Seekor anak kucing di ujung gang

Di sebuah gang kecil menuju pasar di sudut kota sebuah negara berkembang, hiduplah seekor anak kucing bertubuh mungil. Kenapa kusebutkan begitu detail? Karena saya ingin kamu membayangkan betapa miskin, kucel, dan kumuhnya si anak kucing ini. Kawasan itu begitu kumuh, lusuh, lembab, dan bau amis yang berasal dari para penjual ikan.

Anak kucing ini sehari-hari duduk bertengger pada sebuah lantai dingin jalanan, sesekali dia berkeliling gang menuju rumah-rumah penduduk untuk mencari sisa ikan. Ketika hujan turun, tempat berteduh langganannya adalah di sebuah lubang kecil pada tumpukan bebatuan. Ia kesepian.

Pada suatu hari datanglah seorang anak laki-laki membawa sebongkah plastik hitam besar yang tampak berisi. Anak laki-laki itu mendekatkan wajahnya pada si kucing kecil yang menghindar perlahan, memundurkan langkah. Tap–tap—tap, anak laki-laki itu mengeluarkan segenggam daging tuna dan tersenyum pada si kucing. Si kucing berfikir sejenak, memandangi anak laki-laki lekat-lekat, arah pandang berubah haluan pada tuna yang tampak lezat. Si anak kucing bergerak maju perlahan-lahan, sangat hati-hati. Kemudian si anak kucing mulai menjilati tangan anak laki-laki itu perlahan, tak lama kemudian segenggam tuna ludes dilahap si anak kucing. Lalu si anak laki-laki membawa si anak kucing itu ke rumahnya

Berhari-hari sudah si anak laki-laki rutin memberi makan si anak kucing, terkadang ia membawa tuna, terkadang ikan asin, terkadang kepala ayam goreng, terkadang nasi campur sisa ikan bandeng. Si anak kucing sudah familiar dengannya, hingga ia selalu menunggu kedatangan si anak laki-laki itu, setiap hari.

Pada suatu sore yang hujan, si anak laki-laki tak kunjung pulang. Si anak kucing resah, ia mondar mandir di depan pintu, kemudian terdengar debum kaki beradu dengan air. Masuklah si anak laki-laki itu dengan sebuah kandang di tangan kanannya, ia sumringah dan berlari ke dalam, ia buka kandang itu dan keluarlah seekor kucing scottish fold cantik dari dalam kandang. Selang beberapa jam si anak laki-laki itu menenteng si anak kucing keluar rumah dengan payung di genggamannya. Si anak laki-laki kembali ke gang di mana si anak kucing pertama kali ia temukan.

Di bawah derasnya hujan, ia meninggalkan si anak kucing di sana, sendirian. Si anak kucing tak tahu bahwa dirinya kini…dibuang.

Sehari-hari dia menunggu si anak laki-laki itu tapi tak kunjung datang Kemudian datanglah si anak laki-laki yang lain membawa sepotong roti isi daging ayam cincang, ia menyodorkannya pada si anak kucing, seperti biasa si anak kucing mendekat perlahan dan menjilat. Kemudian kembali ia diambil dan diasuh si anak laki-laki ini. Berhari-hari sudah si anak laki-laki ini datang dan membawa berbagai makanan. Tapi, seminggu kemudian anak laki-laki ini menghilang dan meninggalkannya di tempat yang sama.

Berkali-kali sudah si anak kucing dihampiri, dikasihani, diambil, lalu kemudian ditinggalkan.

Si anak kucing pikir, tempat yang paling bisa menerimanya kembali hanyalah ujung gang ini. Meski terkadang tergenang kala hujan, begitu terik kala siang, begitu dingin kala malam,

… dan dia, selalu sendirian.

QPwuUJw

Tamu agung

…dan kemudian saya berbisik dalam hati, dalam hati saja yang tidak didengar siapa-siapa–selain Tuhan tentunya–masih juga pakai bisikan. Sayup-sayup, dengan mantap kuminta tamu yang datang secara tiba-tiba dalam hidupku ini jadi milikku. Konyol. Tak tahu diri. Macam kucing yang terus mengeong padahal sudah diberi satu tulang, ia minta bagian yang lain–jantung.

Ia yang datang secara tiba-tiba tanpa permisi tapi mampu membuat saya berfikir mengenai hal-hal lain yang sebelumnya tak pernah saya fikirkan secara serius. Tamu yang tak pernah kusangka akan datang, ia datang dengan segala laku misteriusnya. Keberadaannya nyata adanya. Tamu yang membuat saya berfikir bahwa dunia dan seisinya tak lantas lebih penting dibanding kedatangannya. Tamu yang membuat saya jungkir balik hanya karena menunggu balasan pesannya yang tak kunjung datang. Tamu yang membuat pipi saya bersemu merah hanya karena tumpukan buku yang dipinjamkannya bahkan belum habis saya baca, tapi bisa habis terbakar karena terus menerus saya pandang, lekat.

Tamu yang membuat saya bersedih, karena pada akhirnya saya sadar…

Sampai saatnya tiba, saya harus rela dibangunkan dari mimpi indah ini. Sampai pada akhirnya saya harus sadar, saya hanya mampu mengagumi hanya sebatas punggungnya saja, dan senyumnya dari jauh–yang bahkan bukan buat saya.

– oOo-

Kayu hampir habis terbakar di dalam perapian, mata-mata yang memperhatikan cerita saya mulai menangkap sinyal “sad ending” dari cerita itu.

“Seperti ‘Isyarat’ di Rectoverso, ya?” Kata Banyu.

“Iya, sial. Kenapa kisahku bahkan hampir selalu nyerempet kisah-kisah dari buku yang kubaca?” rutukku.

“Kamu mungkin harus mulai baca buku yang punya akhir bahagia.” Rena berceletuk.

“Eh atau mungkin, sebenarnya kamu juga baca kisah bahagia tapi sugestimu lebih ‘main’ ke cerita berakhir tragis, ya!” Raka menimpali.

“Kok lu sok ide amat, jangan gitu tar die pesimis. Tenang aja, Ta, semua akan indah pada akhirnya.” Banyu melirik, seakan lirikan itupun seperti tidak ada artinya. Ia bahkan tidak tahu siapa yang kumaksud.

“Klise!” jawabku. Saya beranjak mengambil soda dari kulkas, berharap otakku bisa lebih dingin meski lambungku akan panas nantinya. Hah!

Posisi ini, persis di cerita “Isyarat”, hanya saja saya tidak bisa sekalem pemeran wanita itu. Saya adalah saya, penyuka segala macam hal-hal tidak berfaedah, pemuja segala warna kehidupan, tapi saya juga mengagungkan hitam dan putih. Saya suka bermain aman, karena saya takut jikalau terjatuh saya akan terjatuh sekaligus dan saya pastikan rasa sakit itu akan sulit hilang. Entah bagaimana keadaan ini harus kusebut, kata orang ini ‘trauma’.

Saya ingin pelan-pelan dan diam-diam terjatuh. Saya takut tidak bisa bangkit lagi. Suatu waktu, ketika saya berada dalam titik keresahan, ada yang berceletuk.

“Libatkan Dia dalam segala kondisi, Dia Maha Pemilik.”

Soda ini terasa lebih keras dari biasanya, terasa lebih pahit.

Tapi juga manis.

Si Manis dan si Pirang

Suatu hari ada seorang anak gadis sedang bersandar pada sebuah pohon tua yang menjulang tinggi–menantang langit dan rindang. Semua orang melewatinya tanpa melirik sedikitpun. Ia tak cantik, dari keluarga sederhana, pakaiannya pun tak begitu apik, kulitnya sawo matang, hidungnya tak mancung juga tak terlalu pesek, yaa, seperti gadis pribumi pada umumnya. Tingginya standar anak seumurannya, hampir tak ada yang menarik. Hampir.

Suatu hari ada seorang anak laki-laki berjalan pincang menaiki sebuah lembah hijau di siang menuju sore yang masih cukup terik. Wajahnya penuh peluh–tampak lelah, tapi berbanding terbalik dengan bibirnya yang selalu menyunggingkan senyum. Sepatunya lusuh dan penuh lumpur kering. Kemejanya yang putih menjadi lebih krem. Kulitnya putih dan rambutnya pirang. Anak bule. Hmm atau blasteran? Ya, bisa jadi.

Suatu hari si gadis kecil melihat si anak laki-laki yang sedang berjalan pincang hendak menaiki lembah itu, kemudian si anak bertanya.

“Hei kamu! Pirang! Iya, kamu yang pirang!”

Si anak laki-laki itu menoleh dengan wajah penuh tanya dan beberapa saat kemudian dia tersenyum dan menghampiri si gadis kecil.

“Ya? kamu gadis manis yang memanggilku?”

Si gadis kecil menatap heran, beberapa saat kemudian tersenyum juga.

Dalam hati si anak laki-laki ketika menoleh…

“kenapa gadis ini tak memanggilku si pincang? melainkan si pirang? padahal kupikir lebih menonjol pincangku dibanding pirangku?”

Dalam hati si gadis kecil ketika menatap…

“kenapa dia memanggilku gadis manis? bukankah jelas kulitku yang gelap ini dan wajahku yang jelek ini lebih menonjol dan bahkan tak pantas dipanggil manis?”

Praktis, mereka berteman–menjadi akrab–semakin akrab. Namun kemudian terpisah, si anak laki-laki harus kembali ke Belanda.

Si pincang tak lagi pincang ketika dewasa, pincangnya memang disebabkan menahan sakit di ujung jempol kaki karena selalu memakai sepatu yang kekecilan yang selalu dipakainya menaiki lembah demi melihat matahari terbenam.

Si gadis kecil tumbuh dewasa menjadi wanita yang cerdas dan bertalenta karena sedari kecil dia adalah pengamat yang baik di bawah rindangnya pohon, ia selalu kabur dari rumah untuk belajar di bawah rindangnya pohon demi mencari kedamaian dibanding harus di rumah dan disiksa oleh ayah tirinya.

Ketika dewasa. Pada sebuah kedai kopi yang semakin pekat aroma pahit manisnya. Pada sebuah ujung meja yang dingin, di bawah derasnya air langit yang tumpah ruah saling tumpang tindih di atas genting-genting.

Jam dinding seolah berdetak perlahan seakan menunggu sebuah pertemuan lekas terjadi. Alam seakan menunggu akhir yang sudah mereka tebak sedari lama. Semesta seakan meramalkan bagaimana akhir bahagia berkunjung di ujung kedai kopi itu. Pembaca bahkan menebak perjodohan terjadi di ujung cerita ini karena keduanya merupakan sepotong kisah klasik, dari ribuan kisah klise yang bertebaran di muka bumi.

Suara sepasang sepatu menghampiri meja gadis itu–suara sepatu lelaki, terdengar dari ketukannya yang mantap dan berat.

“Nona Diajeng?” gadis itu menoleh. Kedua pasang mata bertemu. Sesaat seakan semesta menghentikan aktivitasnya, waktu terasa berhenti sebentar, membiarkan keduanya mengobati rindu dari tatapan itu. Setelah menyadari identitas masing-masing dari tatapan yang cukup lamat itu. Kemudian laki-laki itu tersenyum. Pipi Diajeng merona.

Tak berapa lama terdengar suara sepatu yang terdengar terburu-buru menyusul keduanya.

“Aduh, di luar hujan deras. Maaf saya jadi terlambat. Ah, Ajeng sudah lama menunggu?”

“Ah, tidak begitu. Barusan saya pesan kopi dan ini saja belum habis.” Jelas Ajeng.

“Ah, begitu ya. Oh ya, sayang ini Ajeng yang aku ceritain itu loh. Rajin banget dan super tallented. Dia juniorku di kampus dan di kantor. Nah, aku sarankan perusahaan kamu pakai jasa dia untuk bagian advertising. Dia handal loh.” Tukas Rose.

Suasana hambar pun menyambar.

“Oh ya, Ajeng ini pacar saya, Karl. Kalian bisa mulai berkenalan dan mengakrabkan diri ya, setelah hujan reda, saya harus ke suatu tempat karena suatu project.. ya kamu tahulah Jeng. Haha”

Hujan reda. Rose berlalu. Mereka berdua duduk saling berhadapan dan bergeming, hanya ada suara sendok yang menggesek gula-gula di dasar cangkir yang sebenarnya sudah melarut.

“Kamu sudah menikah?” Tanya Karl pada Ajeng

“Menurutmu?”

Karl memandangi jemari Ajeng.

“Bisa saja kamu menyembunyikannya kan?” Tanya Karl sambil sedikit berani menatap mata Ajeng.

“Aku belum menikah, aku baru diputuskan tunanganku.”

Senyum Karl mengembang.

My Scholarship Journey (Beswan Djarum)

Halo, readers. Ngomongin pengalaman mendapatkan beasiswa, kali ini saya pingin share ke kalian mengenai pengalaman saya dari awal perekrutan hingga selama jadi Beswan Djarum. Selain Beswan, sebelumnya saya sempat mendapat beasiswa prestasi dari DIKTI, tapi di postingan ini khusus akan saya bahas beberapa hal mengenai Beswan saja ya.

Akhirnya ada waktu nge-blog juga ya setelah sekian lama, akhir-akhir ini saya lagi sibuk KKN dengan beberapa teman sekampus di salah satu pedesaan di kota Semarang. Kemarin tanggal 25 September 2016 ada sebuah acara penyambutan Beswan Djarum angkatan 32 Semarang di kantor RSO Djarum Semarang, itu artinya sudah jelas ya bahwa saya dan teman-teman Beswan Djarum angkatan 31 resmi P-U-R-N-A. Hiks.

Kemudian saya berinisiatif untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada teman-teman semua sekaligus throwback setahun silam bersama teman-teman beswan, karena saya pikir apa gunanya banyak ilmu dan pengalaman tapi tidak bisa sharing dan bermanfaat bagi orang lain.

Setahun lalu, saya bersama sekitar 15ribu lebih mahasiswa dari seluruh penjuru nusantara mendaftar dan melakukan seleksi untuk mendapatkan bantuan dana pendidikan dari Djarum Foundation Bakti Pendidikan. Singkat cerita, terpilihlah 522 mahasiswa/i termasuk saya dari universitas-universitas unggulan di seluruh penjuru negeri untuk duduk bersama di dalam sebuah naungan achievement ini. Saya masih ingat bagaimana senangnya saya dan sangat tidak saya sangka jalan saya akan dilancarkan oleh Tuhan. Ternyata jadi Beswan Djarum saya mendapatkan banyak hal yang nilainya jauh lebih berharga dibanding uang, banyak sekali pengalaman langka yang saya dapat dan bertemu teman-teman hebat.

Eits, tapi tidak semudah itu untuk mendapatkan semua itu. Pertama-tama, bagi teman-teman yang penasaran apa itu Djarum Beasiswa Plus dan apa saja sih yang bisa kita dapatkan di sana? silakan bisa visit ke website kami http://www.djarumbeasiswaplus.org.

Segala informasi lengkap tertera di sana, dari mulai syarat menjadi pendaftar beasiswa unggulan ini hingga profil alumni bisa dilihat di sana.

Jadi untuk segala informasi yang dibutuhkan terkait syarat dan ketentuan bisa teman-teman lihat di website tersebut, namun saya akan sedikit bercerita apa saja yang harus di-prepare.

Oh ya, syarat utama Beswan kamu harus semester 4 ya. Ada beberapa tahapan dalam seleksi Beswan Djarum: Daftar online, seleksi administrasi (kelengkapan berkas), tes tertulis, tes FGD (tahun 2016 Djarum Foundation tidak menerapkan FGD lagi melainkan suatu teknik lain yang menarik dan surprise tentunya), lalu kemudian tahap interview, dan final.

Pertama, NIAT, SIAP MENTAL, DAN PERCAYA DIRI.

Diniati dari hati dan kamu harus PD. Kalau dari awal langkahmu maju mundur akan sulit melangkah ke langkah-langkah berikutnya. Kalau bukan diri kamu yang percaya dengan kemampuanmu, lalu siapa lagi?

Kedua, PERSIAPKAN DOKUMEN LENGKAP.

Siapkan kelengkapan persyaratan yang diwajibkan untuk dilampirkan. Kebetulan, karena kemarin ketika perekrutan Beswan 32 saya diamanahi untuk menjadi salah satu dari sekian panitia perekrutan, jadi setidaknya saya sedikit mengerti tahapan-tahapan seleksi ini di mata penyeleksi, tapi tetap saja yang berhak menyeleksi dan menentukan lolos tidaknya adalah dari orang-orang pusat.

Untuk berkas usahakan lampirkan yang memang benar-benar dibutuhkan dan memang memiliki nilai plus, kemarin ada yang melampirkan rekening listrik segala macam, padahal sama sekali tidak dinilai. Untuk beasiswa ini memang juga tidak perlu melampirkan SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) jadi bagi kamu yang berprestasi dan dari keluarga yang cukup sehingga tidak bisa mengurus surat itu dan ingin mengembangkan diri bersama Betidak perlu khawatir ya, beasiswa ini tidak menutup kemungkinan untuk siapapun yang ingin bergerak maju dan punya keinginan yang tinggi untuk menjadi sosok yang lebih baik.

Bicara soal berkas ini cukup banyak sih sebenarnya, nggak mau spoiler sih niatnya, cuma memberi gambaran saja. Jika kamu mahasiswa berprestasi dengan piagam-piagam kejuaraan individu yang bejibun, wah boleh banget nih dilampirin.

“Kalau punyanya satu doang gimana?”

Lampirin aja! dan sertifikat keaktifan kepanitiaan juga penting ya, teman-teman. Kalau peserta mah semua orang juga bisa jadi peserta, tapi kalau panitia, tidak semua orang bisa meng-handle kegiatan ya, dan sertifikat kepanitiaan ini setahu saya sih sifatnya wajib ya. Kalau punya banyak, saranku lampirin aja semua, masalah penilaian itu biar jadi urusan panitia. Ya, asal kayak yang saya bilang di atas, yang memang tidak dibutuhkan nggak perlu dilampirkan, nanti malah bikin repot panitia penyeleksi.

Ke-tiga, CEK ULANG.

Setelah dokumen semua lengkap, pastikan kamu cek ulang deh, jangan jadi manusia DL-ers (Deadliners) ya, semua hal harus kamu pastikan jauh-jauh hari dengan matang biar hasilnya juga matang.

“Lalu apa IPK harus tinggi banget?”

Nggak juga, IPK sesuai dengan yang disyaratkan, biasanya IPK mininum yang disyaratkan adalah 3.00. Apabila IPK kamu 3.01 pun nggak masalah, asalkan seluruh kelengkapan dokumen kamu sudah memenuhi persyaratan. Tolok ukur kecerdasan seseorang bagiku nggak melulu soal IP sih, tapi yang namanya orang kuliah ya setidaknya usahakan IP dibagusin ya, hehe.

Intinya sekecil apapun dokumen itu semisal pass photo pun harus dilengkapi ya, jangan sampai sudah nilainya bagus, keaktifannya juga baik, lalu piagam penghargaan bejibun, eh kelupaan menyertakan fotocopy KTM. Beruntunglah kalau panitia mau berbaik hati menghubungi, tapi nggak jamin juga karena berkas yang dicek banyak sekali.

Kamu harus tahu, dokumen yang terkumpul di satu regional saja sudah ribuan, jadi bisa dong bayangin kami panitia penyeleksi harus buka amplop dokumen yang ribuan tersebut satu per satu, dari satu universitas ke universitas yang lain. Kebetulan regional Semarang adalah tempat berkumpulnya dokumen dari Semarang, Salatiga, Solo, dan Jogja.

Kalau kamu sudah dinyatakan lolos tahap administrasi ini, kamu wajib berbangga karena secara administrasi kamu memenuhi. Tapi jalanmu masih saaaangat panjaaang, tapi setidaknya kamu sudah mendobrak satu pintu dan bersiap mendobrak pintu yang lain yang lebih besar.

Ke-empat, PREPARE TES TERTULIS

Biasanya jenis tes yang akan diujikan adalah TPA (Tes Potensi Akademik), psikotest bisa berupa tes menggambar dan wartegg tes. Kamu bisa mulai cari referensi dari jauh-jauh hari ya.

Men, kalian harus tahu di dunia ini emang ada istilah instant tapi yang berproses itu lebih nikmat dan goal-nya pasti memuaskan. Kalau kamu pakai sistem SKS (Sistem Kebut Semalam) kamu bakal kerepotan sendiri bukan hanya karena materi yang bejibun yang pingin kamu garap tapi juga kamu harus menghadapi rasa nervous kamu karena takut pagi keburu menjelang.

Ya, mungkin itu untuk sebagian orang kayak saya, karena saya sadar bukan einstein yang super cerdas, saya mahasiswa biasa yang butuh proses buat ngedapetin sesuatu jadi saya belajar. Kalau pengalaman saya, dulu saya sempat belajar dalam satu minggu itu rutin tiap malam saya mengerjakan TPA dan saya batasi waktunya, saya melatih otak saya untuk terbiasa dipresure waktu biar nanti di ruang tes juga nggak kaget. Tapi alangkah lebih baiknya jangan H-seminggu ya belajarnya, alangkah lebih memuaskan kalau kamu belajar jauh-jauh hari atau bisa dari sekarang untuk mempersiapkan Beswan tahun depan.

Saya biasanya dapat instrumen TPA dari google, banyak kok, asal kamu rajin cari aja jangan cuma nanya ke senior atau ke teman ya. Usahakan aktif sendiri untuk cari informasi dan referensi karena itu akan baik buat kamu ke depannya.

Ke-lima, HARI H TES TERTULIS.

Ketika hari tes tiba, sebaiknya kamu berangkat sebelum jam yang tertera di undangan, semisal di undangan kamu diharuskan sampai di lokasi jam 08.00, setidaknya jam 07.30 kamu sudah berada di sana. Untuk apa? untuk memantau lokasi yang akan dijadikan arena tempur kamu, kamu juga bisa mulai menyesuaikan diri dengan suasananya dan saya yakin, pasti teman-teman lain juga sudah banyak yang datang sebelum jam tes dimulai, jadi kamu bisa tuh mulai menyusun strategi meningkatkan rasa percaya diri kamu dari melihat dan mengenal teman-teman yang juga mengikuti seleksi ini.

Sebaiknya kamu siapkan segala keperlun yang memang seharusnya kamu siapkan, jangan sampai lupa juga mencetak kartu tes ya.

Ke-enam, TENANG DAN RILEKS.

Usahakan jangan biarkan otak kamu terpengaruh dengan orang-orang di sekelilingmu dan menjadikan itu mood breaker. Gak boleh unmood ya. Kadang saat melihat orang yang tampilan luarnya menarik dan looks smart gitu akan muncul perasaan kayak…

“Wah gue bisa gak ya? dia kok keliatan lebih kece dari gue, kayaknya dia lebih pinter dari gue.”

NO NO NO! gak boleh gitu ya. Singkirkan persepsi macam itu dari kepala Anda sekalian. Semua manusia itu pada dasarnya pintar, masing-masing kita membawa keunikan dan kelebihan yang berbeda-beda. Anak Beswan itu cenderung unik-unik loh dari kacamataku, mereka punya karakter kuat dan passionate. Jadi kamu harus percaya diri!

Kemudian yang ke-berapa ya-tujuh ya?

Okay yang ke-tujuh, JANGAN LEWATKAN SATU SOAL PUN.

Kerjakan semua soal dengan penuh keyakinan ya, usahakan jangan sampai ada satupun yang terlewat karena setahu saya sih di sini nggak ada sistem nilai minus untuk soal yang salah. Jadi pastikan semua soal terjawab karena itu akan sangat membantu kamu. Kalau kamu rajin latihan, pasti mata-tangan-dan otak kamu bakal terbiasa ngadepin soal-soal ini dan lancar jaya deh jawabnya. Saat mengerjakan jangan tengok kanan kiri, PD aja sama jawaban kamu. Lebih puas kalau usaha sendiri karena belum tentu juga teman kamu benar, dan juga kamu dibatasi waktu dan mana sempat tengok-tengok.

Okay segitu dulu, ini bakal ada lanjutannya, udahan dulu buat postingan ini karena kepalaku udah mulai nggak mau diajak kerja berat lagi. Hehe I’ll sleep. Thanks for reading, see you soon, readers and leaders!

Moment of the day

13735621_1249776981713673_3835967265438841371_oSebelumnya, gambar fitur di postingan ini (gambar sepasang kaki bersepatu) itu gambar aku, kamu bisa tengok lukisan-lukisan buatanku di instagram @floats.id

Baru-baru ini akhirnya aku beranikan diri buat open order lukisan-lukisanku setelah lama didorong sahabat-sahabatku meski berkali-kali kubilang “Gue kaga pede! ini masih newbie, mana bisa dihargai rupiah?” dan seorang sahabatku bilang “Pede aja! yang namanya seni itu mahal!” intinya begitu.

Eh tapi tenang saja, kalau kamu pingin order, bisa nih kamu pesan ke @floats.id artwork by me (beneran aku yang gambar nggak ada calo di sini), kamu bisa dapetin MURAH MERIAH loh! Aku kalo kasih harga nggak tegaan hehehe *abaikan*

Kamu bisa pesan nama kamu juga karena @floats.id nggak cuma sedia LUKISAN DENGAN MATERIAL CAT AIR dengan gambar-gambar karakter tapi bisa juga dibubuhi nama kamu di sana dengan teknik HAND LETTERING kamu juga bisa pesan DOODLE di sana dan lain sebagainya, custom design.

Sesi promosi selesai, mari mendongeng~

Sebenarnya bingung mau nulis apa, yang lagi ada di pikiranku saat ini adalah aku takut nggak bisa nulis lagi. Aku takut nggak bisa melukis lagi. Aku juga takut salah melepas.

Melepas apapun dan siapapun. Aku takut salah ambil keputusan meski sudah berpikir matang-matang, atau justru bukan keputusanku yang membuat semua itu terlepas melainkan memang tak sengaja terlepas.

Aku pernah menyesal, beberapa kali malahan dan aku nggak pingin menyesal lagi.

Beberapa hari ini aku bertemu banyak sekali wajah dan watak. Karena sudah 20 tahun aku hidup dan belajar, selama itu pula aku berusaha menyesuaikan diri dengan semua orang itu apalagi sebentar lagi akan KKN yang artinya sosialisasi dan bermasyarakat adalah kunci utama kegiatan ini.

Yah, jadi begini ya rasanya semester tua. Pikirannya sudah dipenuhi “kapan lulus?” dan ini baru permulaan. Kemarin malah sudah ada yang menyarankan “Buruan garap skripsinya biar lulus cepet!”

Duh mak, rasanya hidup semakin serius saja ya. Aku udah nggak bisa main-main lagi, nggak bisa bebas main hompimpah, nggak bisa ambil keputusan pake suit atau gambreng atau lempar koin, segala keputusan harus dipikirkan dengan penuh pertimbangan.

Kata sahabatku “Gue lagi career oriented banget nih. Perempuan di usia kita, puas-puasin deh career oriented sebelum entaran nikah mengabdi sepenuhnya sama suami.”

Klise ya, perempuan pingin kerja setelah menikah itu klise banget kayaknya. Pasti banyak konflik di dalamnya, meski nggak semua perempuan ngalamin ini tapi dari kacamataku kayaknya memang benar sahabatku ini, mumpung masih muda cari pengalaman sebanyak-banyaknya sebelum nikah dan gerak terbatasi.

Saat ini mimpiku adalah pingin kembali nulis dan melukis. Kepingin ada pekerjaan yang bersumber dari hobi, bukankah katanya pekerjaan yang ideal adalah hobi yang dibayar? Kepingin aku pergi ke sana ke mari, jiwa petualangku ini tinggi sekali loh hahaha bahkan orang bilang aku ini hyperactive padahal aku cuma seonggok manusia yang penuh rasa penasaran atau bahasa kerennya learny, pingin coba banyak hal aja mumpung masih mampu melakukan.

By the way ini tulisan ngalor ngidul nggak jelas, anggap saja ini pemanasan karena lama nggak nulis. Banyak banget naskah cerpen yang mangkrak dikerjain setengahnya doang lalu mentok. Alhasil beberapa lomba terlewat begitu saja dan berujung geregetan. Aduh duh, kupingin meras otak lebih keras lagi rasanya, pingin ngusir hawa mager juga meski rada yah, lengket gitu.

Ya pokoknya buat kalian pembaca yang kebetulan semester atas yang lagi pada sibuk KKN, PKL, PPL, dsb sehat-sehat jiwa dan raganya ya, tetap semangat mengabdi dan menempa diri!

SEE YOU ON TOP!