Rei…

Kini kanvas yang sedari tadi kosong telah berisi. Wajah itu tampak terkesima dengan lukisannya sendiri. Senyum itu seperti candu, selalu mampu membawanya menjauhi daratan dan melambung ke awan.

Rei, seorang pelacur kelas dollar yang tengah duduk di lobby hotelnya seminggu yang lalu itu tampak selalu mampu membuatnya tak bisa tidur. Kesan pertama yang penuh rahasia membuatnya semakin penasaran.

“Menunggu seseorang?” sapanya. Wanita itu hanya mengangguk, sambil terus membaca majalah di pangkuannya.

Wajahnya menawarkan kebahagiaan. Air mukanya selalu bisa menenggelamkan siapa saja yang menatapnya. Namun dia begitu dingin.

Dia kembali mengempaskan tubuhnya di atas kasur kusut miliknya, menikmati cahaya rembulan dari jendela kamar yang terbuka lebar. Membiarkan angin malam mencumbu tiap lekuk tubuhnya. Meraih tirai-tirai dan menarikannya beriringan dengan irama dedaunan yang saling bergesekan.

Angannya menerawang, senyum itu tak juga surut. Lagaknya persis seperti seorang pemuda yang jatuh cinta pada bidadari yang baru saja dia curi selendangnya.
Sebuah nomor ponsel telah ada di genggamannya, sudah seminggu berlalu tak juga kunjung dia hubungi.

“Rei, kurasa aku benar-benar seperti telah menenggak ribuan botol wine.”

Dia benar-benar mabuk. Padahal, perutnya hanya terisi angin.
Seniman muda itu kini terlelap, berselimutkan udara malam yang menusuk pori-pori tapi dia tetap merasa hangat. Karena hatinya tengah dipeluk cinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s