Alice Aubrey

Alice mendengarkan celotehan asik seseorang di ujung telepon tak berkabelnya. Rasanya sudah lama kupingnya tak dijejali headset selain untuk radio pun musik. Sudah lama kebahagiaan itu teronggok di sudut ruang hati yang gelap tak terjamah, barangkali sudah penuh debu dan sarang laba-laba. Kini ada suara bak tangan yang mengulur mengajak bahagia itu kembali nyala, hidup, dalam hitungan menit bahkan jam.

“Selamat tidur. Semoga mimpi indah, udaraku.” Bisiknya samar. Sang empunya telepon di ujung sana barangkali sudah lelap tertidur mendengar celoteh panjang Alice.
Pipi gadis berkulit putih pucat itu bersemu merah muda. Malamnya tak lagi senyap. Ada suara penghibur lara, telinga yang siap mendengarkan, dan tawa tanda ia menikmati celoteh Alice.
Alice bahagia. Karena bahagianya sungguh sangat sederhana, ia hanya butuh pendengar yang baik.
oOo
Alice Aubrey, dalam bahasa Jerman ‘Alice’ berarti mulia, ‘Aubrey’ berarti peri kecil.
Bagi Archer, Alice adalah peri kecil yang penuh semangat dan sayapnya tak pernah kusut makanya tak ada alasan untuk berhenti terbang. Alice selalu baik dan tatapannya tak pernah redup. Di mata Archer, Alice selalu nampak cemerlang. Entahlah apa yang membuatnya nampak demikian.
Alice sudah milik Karl. Namun Archer-lah yang tak pernah absen dari hari-hari Alice. Bagi Alice, Archer adalah udara yang semilir berhembus di saat hatinya pengap akan rindu yang tak terselesaikan. Air jernih yang mengguyur rata hatinya yang tengah kering kerontang. Tempatnya pulang ketika hati sudah lelah berkelana.
Bagi Alice, Archer adalah rumah baginya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s