Senja Masai

Barangkali jejak tangan pada debu di atas kursi itu adalah jejak tunggumu. Aku membayangkan betapa letihnya kau mendudukkan tubuh rentamu di atas kursi kayu setiap sore di taman yang sama.

Seringkali kulihat punggungmu semakin jauh, jauh, berjalan menjauhiku tiap petang menjelang. Kau selalu memanggil namaku bahkan dengan isakan.

Senja hari ini kulihat kau kembali datang, duduk dan memandang kosong dedaunan kering. Mengapakah selalu kau isi senjamu dengan lamunan?

“Bagaimana kabarmu?”


Kau bahkan tak berbicara sepatah katapun kala aku tengah berdiri dan tersenyum di hadapanmu, ingin rasanya kurengkuh dirimu, memuntahkan segala rindu. Tapi tak bisa.

Kau gosok-gosokkan kedua telapak tanganmu kemudian menempelkannya di kedua pipimu yang mulai keriput. Kau tampak jauh lebih tua dari hari ke hari. kulitmu mulai keriput, rambutmu memutih, apa mungkin aku yang tak kunjung menua?

“Lama tak jumpa, Arata-kun.”
Aku duduk di sampingmu, kau sibuk menyingkirkan dedaunan momiji yang tengah menguning di kursi itu.

“Arata-kun…”
Kau beranjak pergi. Kuikuti dari belakang tanpa tolehan sedikitpun darimu. Kau berhenti di suatu tempat yang hening, bersih, dan hijau. Di sebuah penguburan. Kau berlutut di depan sebuah nisan, bertuliskan…

namaku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s