Kepada ‘entahlah’

Saya mau berkirim surat, tapi entah pada siapa.

Okay, saya anggap saya nggak naif.

Kemarin saya nulis buat Neptunus, haha lagipula bingung mau ditujukan ke siapa, ya sudah saya nyamar jadi Kugy sehari itu. Ini surat kedua saya, ditujukan pada ‘entahlah’.

Banyak orang berlalu lalang di sekitar saya, banyak ekspresi yang mereka tunjukkan. Mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Mereka bercengkerama di suatu kursi, beranjak, lalu pulang. Esoknya mereka mengulangi kegiatan itu lagi, begitu lagi seterusnya. Simpulannya, mereka selalu pergi lalu pulang, ke manapun mereka pergi selalu ada tempat untuk kembali. Rumah. Terkadang pikiran saya usil bertanya-tanya, apa yang mereka cari? ada misi apa mereka di sini? Tuhan menciptakannya untuk apa? apa ada keperluan yang harus diselesaikan yang belum terselesaikan di masa lalu? Eh, kok saya lama kelamaan merujuk ke reinkarnasi.

Saya memang suka mikir nggak penting. Menuh-menuhin memori otak saja ya. Tapi itu menyenangkan, ketika kita bertanya kepada diri kita sendiri dan menemukan jawabannya sendiri, atau berujung pada tanda tanya agung yang berkeliaran di pikiran lalu hilang begitu saja. Seperti berdebat dengan pikiran sendiri, seolah ada dua jiwa yang masuk ke dalam raga saya, mereka rajin berdiskusi. Kadang ketika saya diam, otak saya melakukan kegiatan itu: bertanya, penasaran, mencari jawaban. Seakan otak saya tidak mau diajak beristirahat.

Saya merasa baru bangun. Saya mimpi indah sekali, banyak hal yang saya lewati di dalam sana, banyak rasa yang saya kecap dalam perjalanan menuju bangun. Saya menduga-duga itu mimpi terpanjang seumur hidup, saya pikir itu mimpi termenarik sepanjang sejarah hidup saya ternyata ini kenyataan.

Beberapa hari ini saya bahagia dalam tiap kesibukan saya, seakan semuanya nikmat saja untuk dilalui. Saya ingin hidup seimbang, seperti yang diinginkan orangtua saya. Banyak hal yang saya korbankan demi ego saya, bukan sih lebih tepatnya demi idealisme yang saya bangun sendiri. Saya ingin menjadi ‘seseorang’ untuk kedua orangtua saya. Cinta? saya merasa kopong saat ini. Banyak hal yang ingin saya lakukan, saya merasa resah tiap hari seakan diseret-seret waktu. Cepat sekali saya bertemu ujung minggu, cepat sekali pagi berpaling pada malam.

Terkadang saya ingin beristirahat, tapi saya takut tertinggal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s