AMARA BAMBU

Gadis cantik berambut hitam legam itu terus menekuni kegiatannya sejak satu jam yang lalu, tangannya dengan terampil mengumpulkan kayu-kayu kering, memisahkannya dari daun-daun, memotongnya dengan ukuran yang sama. Di sudut hutan yang gelap dan sunyi itu Amara biasa duduk bersandar bambu setelah kelar membenahi kayu-kayu untuk diboyongnya ke rumah, ketika matahari rebah dan para petani mulai kembali ke rumah masing-masing.

Amara namanya, baginya senja adalah waktu yang paling tepat untuk mencari penghidupan. Amara hidup sebatang kara, ia memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri sejak setahun silam. Orang di kampungnya bilang, ayahnya buronan. Ketika orangtuanya masih ada, hampir tiap hari Amara harus mendengar cekcok dari keduanya. Malam itu bapaknya tak pulang, mamaknya kalang kabut mencari uang hingga fajar menjelang, segala macam tagihan akan menemui jatuh temponya esok hari. Amara menyiapkan hidangan makan malam seadanya, ia duduk sendirian di ujung meja tua. Nasinya tak tersentuh hingga kepulan asapnya mulai kabur terbawa angin saking lamanya hanya dipandang. Mata sayunya basah perlahan, buru-buru ia menyeka. Malam demi malam selalu ia lewati dengan keadaan yang sama, meja berisi nasi hangat, ikan asin, dan air putih dengan satu kursi saja yang terisi. Ia melipat tangannya di atas meja lalu menyandarkan kepala di atasnya, memejamkan mata kemudian. Tak lama, ia mendengar suara wajan beradu dengan sendok sayur aluminium, buru-buru ia mengangkat wajahnya.

“Mak, masak apa? Tumben tak pergi?” Tanya Amara sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit sepuluh detik.

“Kamu sudah bangun? Tidur lama sekali di meja, mamak kira kamu pingsan. Mamak masak ayam goreng, sambal, dan sayur bayam kesukaanmu. Duduklah di sana, sebentar lagi bapak pulang.”

“Tumben mak.”

“Daritadi bilang tumben-tumben terus, biasanya juga begitu, sudah lapar ya? Mamak bikinin teh manis hangat.”

Terdengar suara derit pintu dan langkah kaki bersepatu masuk ke dalam rumah. Nampak bapak Amara berpakaian rapi layaknya pekerja kantoran, berdasi, berkemeja, bercelana hitam dengan bekas seterikaan yang masih nampak jelas. Begitu necisnya bapak sampai-sampai Amara pikir itu saudagar yang datang mau membeli rumah reotnya.

“Bapak?”

“Kenapa nak? Kamu tak suka sama pekerjaan baru bapak?”

Amara masih ternganga tak percaya.

“Bapak diangkat jadi manajer marketing ini. Kamu bisa beli boneka beruang di toko yang kemarin kau lewati itu. Beli lima, eh sepuluh, wah lima puluh pun bapak sanggup!”

Air mata menetes di pipinya, begitu senangnya Amara. Tapi tiba-tiba logikanya bermain, ada yang mengusik pikirannya. Ini semua terasa janggal ataukah ini hanya mimpi?

“Mimpi? INI MIMPI MAK!!!” Tiba-tiba Amara berteriak, mamaknya menoleh dan melotot begitupun bapaknya, mereka terkesiap dengan kalimat Amara barusan. Mamaknya tiba-tiba menangis, kemudian bapak berlari dengan mata merah dan ganas menuju Amara. Amara dicekik sejadinya, hingga tak sanggup ia berkata-kata.

Brakkkk!!!”

Amara terjatuh dari kursi tempatnya duduk dengan kedua tangan memegang erat lehernya sendiri. Ia lalu melepasnya dan terbatuk-batuk. Matanya nanar menatap sekitar, tak ada siapapun.

Ke mana mamak? Bapak? Matanya menangkap jarum jam yang bergerak. Bergerak? Batinnya. Barusan ia melihat mamak memasak dan jarum jam yang ia lihat di jam dinding yang sama itu tak bergerak, kini ia bergerak.

“Mimpi?” gumamnya.

Ia melihat piringnya masih kosong, sendok yang tak bernoda dan nasi yang berhenti mengepulkan asapnya, ikan asin itu sudah tak menggoda. Rupanya Amara tertidur di meja makan. Rasanya ia ingin hidup dalam mimpi saja, ketika bahagia yang selalu ia bayangkan bisa ia rasakan begitu nyata di sana. Itulah alasan kenapa Amara lebih suka tidur dibanding terjaga ketika orangtuanya di rumah. Tak ada yang bagus yang bisa ia dengarkan, lihat, dan rasakan. Hanya sumpah serapah yang mengudara ketika kedua orangtuanya bertemu.

Pada satu malam, terdengar jeritan yang sangat memekakan telinga. Amara tak berani mendekat, hatinya dipenuhi resah tak terukur hingga menggerakkan kaki saja ia tak berani. Ia lantas memaksa matanya memejam sembari menutup rapat-rapat telinganya, telentang di antara selimut lusuh yang membuatnya sedikit merasa aman, merapatkan dirinya pada dinding kamar yang dingin.

Paginya, rumah tampak seperti habis dihantam badai, bapaknya tak ada. Bau alkohol memenuhi ruang tengah, botol-botol kaca bekas bapaknya menenggak minuman jahanam itu berserakan di mana-mana. Kemudian ia melangkah ke arah kamar orangtuanya. Amara tertegun di ambang pintu, ia mendapati tubuh mamaknya  tergeletak di lantai kamar, pisau dapur menancap tepat di perut, bau amis dari darah yang berceceran di mana-mana terasa sangat menusuk hingga tak sanggup ia membidunya lebih lama. Tiba-tiba kakinya melemas, Amara tersungkur, matanya memerah tapi tak ada yang mau mengalir dari sudut-sudut mata sayunya, hatinya kesakitan. Bagaimana mungkin seseorang yang sangat mamaknya cintai bisa tega membantai habis nyawanya.

Sejak saat itu Amara tumbuh menjadi sosok yang berbeda. Tak ada lagi Amara yang berparas ayu nan cemerlang bagai matahari pagi dan mata sayunya yang selalu tersenyum bagai bulan sabit tiap tertawa kini redup. Amara tumbuh menjadi gadis penuh amarah, hatinya gelap dan pengap, tak ada segaris tipispun senyum di wajahnya, tatapannya bersulut dendam. Ia hanya menjalani hidup seadanya, sebagaimana ia terlahir dari rahim seorang ibu yang hidupnya penuh penghianatan, lelah dihajar peliknya dunia hingga rela pergi malam pulang pagi tiap hari, demi bisa membeli beras esok lagi. Memiliki seorang ayah tiri pemabuk nan kejam, yang kabur begitu saja setelah menghabisi nyawa surganya.

Amara menjalani hidup seperti ia akan mati besok. Bagaimana mungkin manusia dilahirkan tanpa harapan? lantas ia sepakat dengan takdir, ia hidup untuk mati. Itulah Amara. Tiap ia lewat keramaian, suara-suara tetangga berlalu lalang menusuk telinga dan hatinya. Seperti di pagi pertama setelah mamaknya dikuburkan dan bapaknya tak ditemukan.

“Kasihan sekali dia. Bapak tiri kabur, ibunya mati.”

“Memang begitulah nasib anak haram.” Suara-suara itu saling bersahutan, seperti sengaja diperdengarkan ketika Amara melewati mereka.

“Ya, barangkali itu karma gara-gara ibunya.”

“Alamak, hidupnya susah kali dia.”

“Ah, barangkali memang sudah balasan anak lonte.”

Apa yang harus kutolak dari kalimat mereka?barangkali memang benar. Batinnya. Tak bisa Amara tampik, sedikitpun Amara tak membalasnya. Mulut kau sebusuk hati kau. Bahkan lebih busuk dari bangkai! Batinnya masih bergejolak tapi mulutnya diam saja, kemudian mempercepat langkah sambil menenteng sayuran yang ia beli dari pasar seberang desa. Sepasang mata tengah memperhatikannya dari balik semak belukar yang ia lewati. Amara berjalan lurus tanpa peduli.

Senjakala memang waktu yang tepat untuk keluar dari kungkungan dunia. Amara berjalan ke arah semak belukar lagi, menuju rerimbunan bambu yang bersiul-siul dan bergesekan satu sama lain. Bagi Amara itu adalah nada terindah yang pernah ia dengar, alunan alam yang merdu, bagi warga sekitar itu adalah suara paling menyeramkan di batas senja yang membuat kaki-kaki berjalan lebih cepat kala melewati rerimbunan bambu itu.

Tapi kala itu tak hanya ia yang berada di antara rimbunan bambu, ia mendengar suara sepasang kaki berjalan di belakangnya. Berkali-kali ia menoleh, tak ada siapapun. Beberapa saat kemudian ia merasa punggungnya disergap, mulutnya dibungkam, tangannya dililit. Amara diambrukkan begitu saja di atas tanah, tubuhnya ditindih tiba-tiba. Amara tak dapat melihat dengan jelas wajah lelaki ini karena mulut lelaki ini tertutup kain hitam, hanya saja ia memiliki tato jangkar di lengan kirinya.

Malam itu begitu mengenaskan, Amara terduduk di antara rimbunan bambu dengan rambut lusuh, sudut bibirnya berdarah. Ia meringkuk dan merintih. Tangannya meraih pakaiannya yang berserakan di mana-mana, perlahan mulai ia kenakan kembali.

Sudah tiga hari Amara menghilang, tak ada jejak apapun di rumahnya. Warga mulai mencari dan menelisik apakah ia pergi dari kampung tanpa membawa apapun? Hingga malam pihak pimpinan kampung tak juga mendapat kabar perihal menghilangnya Amara.

Pagi harinya warga dikejutkan dengan kabar ditemukannya seorang gadis di tengah hutan bambu. Sebelum sempat diamankan, gadis itu melesat entah ke mana. Sore harinya, setiap ada lelaki lewat rimbunan bambu selalu terkena lemparan batu. Beberapa kali terkena kepala para pemuda yang sedang meronda hingga berdarah. Terkadang warga melihat sosok gadis berambut panjang berlari ke arah semak-semak di sekitar hutan bambu sambil bersenandung entah apa yang disenandungkan. Sesekali gadis itu merintih dan menangis di balik rimbunan bambu, tak jarang juga ia terbahak tiba-tiba.

“Itu Amara, dia gila!” kata seorang pemuda berambut ikal.

“Dengar-dengar dia diperkosa” timpal temannya yang membawa obor

“Malang kali si Amara. Ayo kita cari dia, seret ke kelurahan. Dia sudah sangat meresahkan!”

Amara nampaknya begitu bengis malam itu, dia berlari ke arah gerombolan pemuda itu lalu memukuli salah seorang pemuda di antara empat pemuda yang sedang meronda itu dengan batu runcing sebesar genggaman tangan orang dewasa, hingga kepala lelaki ini berdarah-darah. Teman-temannya berusaha melerai tapi Amara begitu kuat seperti kesetanan kala itu.

“Bajingan! Biadab! Pergilah ke neraka!” rutuknya pada pemuda bertato jangkar di lengan kirinya itu.

4 thoughts on “AMARA BAMBU

  1. Bagus Wit cerpennya. Narasinya gampang diimajinasikan. Jadi sedih huhu 😥
    Cuman di awal aja kurang padet, agak terasa bertele-tele dan di bagian yg disergap itu kurang erotis dikit wkwkwkwk. Tapi secara keseluruhan bagus banget. Aku suka 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s