Rindu dari Nirwana

Saat ini adalah musim semi, tapi tidak ada yang bersemi di dalam hati. Aku, seperti sepatu lusuh yang teronggok di pojok gudang perkakas. Aku menjadi berdebu, hitam, dan… ditinggalkan.

Semenjak ia hadir, musim dingin serasa musim semi, musim semi yang putih, aku tak lagi kedinginan. Tapi ketika musim semi yang sebenarnya datang, ia pergi-entah ke mana. Ia pergi begitu saja tanpa mengucap salam perpisahan. Malam itu adalah terakhir kita bertemu, wajahnya memerah karena udara dingin yang begitu menusuk pori.

“Mari masuk, aku buatkan teh hangat.”

Ia memasuki ruang tamuku, kemudian duduk meringkuk di sebuah sofa lusuh panjang.

“Dingin?”

“Pertanyaan macam apa itu, Mika?”

“Hehe, maaf Nata. Sebentar kuambilkan selimut.”

“Tidak perlu. Kemarilah, duduk di sebelahku maka aku tak perlu lagi selimut.”

Aku mendekat dan duduk tepat di sisi kirinya, ia meringkuk ke arahku kemudian kupeluk, kutepuk pelan punggungnya.

“Mika-chan”

“Hemm?” Jawabku pelan

“Mikako Misaki.”

“Ya, Kanata Yamazaki?”

“Ijinkan seperti ini untuk beberapa saat. Aku merindukanmu.”

Aku tersenyum, rasanya malam itu dia menjadi sangat manja, tapi dia lebih seperti orang yang… ketakutan.

“Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?” tanyaku hati-hati.

“Tidak ada, Mika…” dia diam sejenak  “…Semuanya baik-baik saja.”

Aku mempererat pelukan sambil berbisik.

“Besok akan jauh lebih hangat. Aku janji.”

Aku tahu dia tersenyum dalam rengkuhanku. Entah harus semanis apa kalimat kubuat tetap di dalam hati kecilku ada resah yang membuncah, ada sesuatu yang menyelinap, mengendap-endap hendak menyergap. Lalu kubiarkan perasaan itu berlarut-larut hilang. Kami berdua tertidur di sofa yang hangat.

Paginya, aku tak melihat siapapun di sampingku. Tak ada lelaki jangkung yang tampan yang semalam meringkuk di pelukanku. Tak ada siapapun kecuali sebuah kertas kecil bertuliskan sebuah kalimat yang sengaja ditinggalkan.

Arigatou, Mika-chan…

Selama ini, setiap kali kita berpisah di kereta bawah tanah sembari melepas satu sama lain bekerja tak pernah ada perasaan gelisah yang sebegini hebatnya. Tak pernah ada pesan singkat di secuil kertas yang ditinggalkan. Saat itu juga aku merasa ada yang janggal. Setelah itu tak ada kabar darinya, tak ada nomor ponsel yang bisa kuhubungi, aku tak berani mendatangi rumahnya karena orangtuanya amat keras menentangku. Sudah berhari-hari aku menunggu. Kemudian seorang loker koran langgananku datang membawa berita, bukan berita harian melainkan berita kematian. Kakiku melemas seketika dia menyebut nama Nata di antara rentetan detail kematian itu.

Sebulan kemudian, seseorang mengetuk pintu lalu kubuka perlahan, kuintip sebentar, karena selama ini aku tak pernah menerima tamu selain pemilik LDK (Living-Dining-Kitchen).

“Siapa?”

Seorang gadis tersenyum, wajahnya ayu dan berseri-seri, tubuhnya tinggi semampai, memakai gaun tosca selutut yang nampak begitu lembut, rambutnya bergelombang dan panjang sepinggang, bibirnya merah merekah seperti mawar di pagi yang berembun-segar. Sangat berbeda dengan tampilanku yang berantakan.

“Saya bidadari.”

Aku terbahak dari balik pintu yang masih setengah menutup. Semua wanita cantik boleh mengaku bidadari, tapi ini sungguh terlalu percaya diri baru sekali bertemu langsung memperkenalkan diri sebagai bidadari. Tapi gadis itu menimpali tawaku dengan sebuah senyuman yang amat tulus.

“Saya tanya siapa namamu?”

“Saya bidadari yang menjaganya. Saya bidadari yang ditugaskan berada disampingnya.”

“Dia siapa?”

“Nata. Dia sudah berada di tempat ternyaman di nirwana. Tapi saya cemburu padamu. Dia terus saja menolak saya, dia mengingatmu dan memanggilmu terus menerus padahal saya tahu waktumu di dunia masih lama. Bagaimana ini?”

Aku diam beberapa saat, tanpa sadar aku menangis. Persetan dengan bidadari ini, bagaimana bisa dia mendatangiku hanya karena cemburu, dia jelas lebih cantik kenapa dia tak rayu saja Nata di surga itu agar mencintainya, kenapa Nata masih menungguku?

“Katakan padanya, jangan menunggu. Berbahagialah.”

“Tidak, saya kemari ingin menyampaikan kerinduannya.”

Gadis itu memberikanku sebuket besar mawar merah tanpa duri, indah sekali. Belum pernah aku melihat mawar sesegar ini.

“Bidulah wangi mawar itu, sewangi itulah rindu Nata padamu.”

Gadis itu menghilang seketika. Meski sudah berhari-hari tapi mawar itu tak pernah berubah, wangi dan bentuknya masih sama, segarnya tak ada beda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s