Si Manis dan si Pirang

Suatu hari ada seorang anak gadis sedang bersandar pada sebuah pohon tua yang menjulang tinggi–menantang langit dan rindang. Semua orang melewatinya tanpa melirik sedikitpun. Ia tak cantik, dari keluarga sederhana, pakaiannya pun tak begitu apik, kulitnya sawo matang, hidungnya tak mancung juga tak terlalu pesek, yaa, seperti gadis pribumi pada umumnya. Tingginya standar anak seumurannya, hampir tak ada yang menarik. Hampir.

Suatu hari ada seorang anak laki-laki berjalan pincang menaiki sebuah lembah hijau di siang menuju sore yang masih cukup terik. Wajahnya penuh peluh–tampak lelah, tapi berbanding terbalik dengan bibirnya yang selalu menyunggingkan senyum. Sepatunya lusuh dan penuh lumpur kering. Kemejanya yang putih menjadi lebih krem. Kulitnya putih dan rambutnya pirang. Anak bule. Hmm atau blasteran? Ya, bisa jadi.

Suatu hari si gadis kecil melihat si anak laki-laki yang sedang berjalan pincang hendak menaiki lembah itu, kemudian si anak bertanya.

“Hei kamu! Pirang! Iya, kamu yang pirang!”

Si anak laki-laki itu menoleh dengan wajah penuh tanya dan beberapa saat kemudian dia tersenyum dan menghampiri si gadis kecil.

“Ya? kamu gadis manis yang memanggilku?”

Si gadis kecil menatap heran, beberapa saat kemudian tersenyum juga.

Dalam hati si anak laki-laki ketika menoleh…

“kenapa gadis ini tak memanggilku si pincang? melainkan si pirang? padahal kupikir lebih menonjol pincangku dibanding pirangku?”

Dalam hati si gadis kecil ketika menatap…

“kenapa dia memanggilku gadis manis? bukankah jelas kulitku yang gelap ini dan wajahku yang jelek ini lebih menonjol dan bahkan tak pantas dipanggil manis?”

Praktis, mereka berteman–menjadi akrab–semakin akrab. Namun kemudian terpisah, si anak laki-laki harus kembali ke Belanda.

Si pincang tak lagi pincang ketika dewasa, pincangnya memang disebabkan menahan sakit di ujung jempol kaki karena selalu memakai sepatu yang kekecilan yang selalu dipakainya menaiki lembah demi melihat matahari terbenam.

Si gadis kecil tumbuh dewasa menjadi wanita yang cerdas dan bertalenta karena sedari kecil dia adalah pengamat yang baik di bawah rindangnya pohon, ia selalu kabur dari rumah untuk belajar di bawah rindangnya pohon demi mencari kedamaian dibanding harus di rumah dan disiksa oleh ayah tirinya.

Ketika dewasa. Pada sebuah kedai kopi yang semakin pekat aroma pahit manisnya. Pada sebuah ujung meja yang dingin, di bawah derasnya air langit yang tumpah ruah saling tumpang tindih di atas genting-genting.

Jam dinding seolah berdetak perlahan seakan menunggu sebuah pertemuan lekas terjadi. Alam seakan menunggu akhir yang sudah mereka tebak sedari lama. Semesta seakan meramalkan bagaimana akhir bahagia berkunjung di ujung kedai kopi itu. Pembaca bahkan menebak perjodohan terjadi di ujung cerita ini karena keduanya merupakan sepotong kisah klasik, dari ribuan kisah klise yang bertebaran di muka bumi.

Suara sepasang sepatu menghampiri meja gadis itu–suara sepatu lelaki, terdengar dari ketukannya yang mantap dan berat.

“Nona Diajeng?” gadis itu menoleh. Kedua pasang mata bertemu. Sesaat seakan semesta menghentikan aktivitasnya, waktu terasa berhenti sebentar, membiarkan keduanya mengobati rindu dari tatapan itu. Setelah menyadari identitas masing-masing dari tatapan yang cukup lamat itu. Kemudian laki-laki itu tersenyum. Pipi Diajeng merona.

Tak berapa lama terdengar suara sepatu yang terdengar terburu-buru menyusul keduanya.

“Aduh, di luar hujan deras. Maaf saya jadi terlambat. Ah, Ajeng sudah lama menunggu?”

“Ah, tidak begitu. Barusan saya pesan kopi dan ini saja belum habis.” Jelas Ajeng.

“Ah, begitu ya. Oh ya, sayang ini Ajeng yang aku ceritain itu loh. Rajin banget dan super tallented. Dia juniorku di kampus dan di kantor. Nah, aku sarankan perusahaan kamu pakai jasa dia untuk bagian advertising. Dia handal loh.” Tukas Rose.

Suasana hambar pun menyambar.

“Oh ya, Ajeng ini pacar saya, Karl. Kalian bisa mulai berkenalan dan mengakrabkan diri ya, setelah hujan reda, saya harus ke suatu tempat karena suatu project.. ya kamu tahulah Jeng. Haha”

Hujan reda. Rose berlalu. Mereka berdua duduk saling berhadapan dan bergeming, hanya ada suara sendok yang menggesek gula-gula di dasar cangkir yang sebenarnya sudah melarut.

“Kamu sudah menikah?” Tanya Karl pada Ajeng

“Menurutmu?”

Karl memandangi jemari Ajeng.

“Bisa saja kamu menyembunyikannya kan?” Tanya Karl sambil sedikit berani menatap mata Ajeng.

“Aku belum menikah, aku baru diputuskan tunanganku.”

Senyum Karl mengembang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s