Tamu agung

…dan kemudian saya berbisik dalam hati, dalam hati saja yang tidak didengar siapa-siapa–selain Tuhan tentunya–masih juga pakai bisikan. Sayup-sayup, dengan mantap kuminta tamu yang datang secara tiba-tiba dalam hidupku ini jadi milikku. Konyol. Tak tahu diri. Macam kucing yang terus mengeong padahal sudah diberi satu tulang, ia minta bagian yang lain–jantung.

Ia yang datang secara tiba-tiba tanpa permisi tapi mampu membuat saya berfikir mengenai hal-hal lain yang sebelumnya tak pernah saya fikirkan secara serius. Tamu yang tak pernah kusangka akan datang, ia datang dengan segala laku misteriusnya. Keberadaannya nyata adanya. Tamu yang membuat saya berfikir bahwa dunia dan seisinya tak lantas lebih penting dibanding kedatangannya. Tamu yang membuat saya jungkir balik hanya karena menunggu balasan pesannya yang tak kunjung datang. Tamu yang membuat pipi saya bersemu merah hanya karena tumpukan buku yang dipinjamkannya bahkan belum habis saya baca, tapi bisa habis terbakar karena terus menerus saya pandang, lekat.

Tamu yang membuat saya bersedih, karena pada akhirnya saya sadar…

Sampai saatnya tiba, saya harus rela dibangunkan dari mimpi indah ini. Sampai pada akhirnya saya harus sadar, saya hanya mampu mengagumi hanya sebatas punggungnya saja, dan senyumnya dari jauh–yang bahkan bukan buat saya.

– oOo-

Kayu hampir habis terbakar di dalam perapian, mata-mata yang memperhatikan cerita saya mulai menangkap sinyal “sad ending” dari cerita itu.

“Seperti ‘Isyarat’ di Rectoverso, ya?” Kata Banyu.

“Iya, sial. Kenapa kisahku bahkan hampir selalu nyerempet kisah-kisah dari buku yang kubaca?” rutukku.

“Kamu mungkin harus mulai baca buku yang punya akhir bahagia.” Rena berceletuk.

“Eh atau mungkin, sebenarnya kamu juga baca kisah bahagia tapi sugestimu lebih ‘main’ ke cerita berakhir tragis, ya!” Raka menimpali.

“Kok lu sok ide amat, jangan gitu tar die pesimis. Tenang aja, Ta, semua akan indah pada akhirnya.” Banyu melirik, seakan lirikan itupun seperti tidak ada artinya. Ia bahkan tidak tahu siapa yang kumaksud.

“Klise!” jawabku. Saya beranjak mengambil soda dari kulkas, berharap otakku bisa lebih dingin meski lambungku akan panas nantinya. Hah!

Posisi ini, persis di cerita “Isyarat”, hanya saja saya tidak bisa sekalem pemeran wanita itu. Saya adalah saya, penyuka segala macam hal-hal tidak berfaedah, pemuja segala warna kehidupan, tapi saya juga mengagungkan hitam dan putih. Saya suka bermain aman, karena saya takut jikalau terjatuh saya akan terjatuh sekaligus dan saya pastikan rasa sakit itu akan sulit hilang. Entah bagaimana keadaan ini harus kusebut, kata orang ini ‘trauma’.

Saya ingin pelan-pelan dan diam-diam terjatuh. Saya takut tidak bisa bangkit lagi. Suatu waktu, ketika saya berada dalam titik keresahan, ada yang berceletuk.

“Libatkan Dia dalam segala kondisi, Dia Maha Pemilik.”

Soda ini terasa lebih keras dari biasanya, terasa lebih pahit.

Tapi juga manis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s