Seekor anak kucing di ujung gang

Di sebuah gang kecil menuju pasar di sudut kota sebuah negara berkembang, hiduplah seekor anak kucing bertubuh mungil. Kenapa kusebutkan begitu detail? Karena saya ingin kamu membayangkan betapa miskin, kucel, dan kumuhnya si anak kucing ini. Kawasan itu begitu kumuh, lusuh, lembab, dan bau amis yang berasal dari para penjual ikan.

Anak kucing ini sehari-hari duduk bertengger pada sebuah lantai dingin jalanan, sesekali dia berkeliling gang menuju rumah-rumah penduduk untuk mencari sisa ikan. Ketika hujan turun, tempat berteduh langganannya adalah di sebuah lubang kecil pada tumpukan bebatuan. Ia kesepian.

Pada suatu hari datanglah seorang anak laki-laki membawa sebongkah plastik hitam besar yang tampak berisi. Anak laki-laki itu mendekatkan wajahnya pada si kucing kecil yang menghindar perlahan, memundurkan langkah. Tap–tap—tap, anak laki-laki itu mengeluarkan segenggam daging tuna dan tersenyum pada si kucing. Si kucing berfikir sejenak, memandangi anak laki-laki lekat-lekat, arah pandang berubah haluan pada tuna yang tampak lezat. Si anak kucing bergerak maju perlahan-lahan, sangat hati-hati. Kemudian si anak kucing mulai menjilati tangan anak laki-laki itu perlahan, tak lama kemudian segenggam tuna ludes dilahap si anak kucing. Lalu si anak laki-laki membawa si anak kucing itu ke rumahnya

Berhari-hari sudah si anak laki-laki rutin memberi makan si anak kucing, terkadang ia membawa tuna, terkadang ikan asin, terkadang kepala ayam goreng, terkadang nasi campur sisa ikan bandeng. Si anak kucing sudah familiar dengannya, hingga ia selalu menunggu kedatangan si anak laki-laki itu, setiap hari.

Pada suatu sore yang hujan, si anak laki-laki tak kunjung pulang. Si anak kucing resah, ia mondar mandir di depan pintu, kemudian terdengar debum kaki beradu dengan air. Masuklah si anak laki-laki itu dengan sebuah kandang di tangan kanannya, ia sumringah dan berlari ke dalam, ia buka kandang itu dan keluarlah seekor kucing scottish fold cantik dari dalam kandang. Selang beberapa jam si anak laki-laki itu menenteng si anak kucing keluar rumah dengan payung di genggamannya. Si anak laki-laki kembali ke gang di mana si anak kucing pertama kali ia temukan.

Di bawah derasnya hujan, ia meninggalkan si anak kucing di sana, sendirian. Si anak kucing tak tahu bahwa dirinya kini…dibuang.

Sehari-hari dia menunggu si anak laki-laki itu tapi tak kunjung datang Kemudian datanglah si anak laki-laki yang lain membawa sepotong roti isi daging ayam cincang, ia menyodorkannya pada si anak kucing, seperti biasa si anak kucing mendekat perlahan dan menjilat. Kemudian kembali ia diambil dan diasuh si anak laki-laki ini. Berhari-hari sudah si anak laki-laki ini datang dan membawa berbagai makanan. Tapi, seminggu kemudian anak laki-laki ini menghilang dan meninggalkannya di tempat yang sama.

Berkali-kali sudah si anak kucing dihampiri, dikasihani, diambil, lalu kemudian ditinggalkan.

Si anak kucing pikir, tempat yang paling bisa menerimanya kembali hanyalah ujung gang ini. Meski terkadang tergenang kala hujan, begitu terik kala siang, begitu dingin kala malam,

… dan dia, selalu sendirian.

QPwuUJw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s