“I hate people” she said

Aku membenci semua orang, sesimpel aku membenci angin yang mengacaukan rambutku. Aku membenci semua orang, sesimpel aku membenci diriku sendiri.

Kecuali…

“Taraaa!”

“Iya, Maaaa!”

Mama. Cuma dia yang aku punya di dunia ini. Tapi sungguh, aku benci kehidupan. Kenapa harus ada kehidupan, kenapa harus ada sebuah awal, kenapa harus ada pertemuan… jika akhirnya kami selalu ditinggalkan?

“Sini!”

Aku beranjak dari kasur, meniti satu per satu ubin kayu rumahku menuju kamar mandi tempat mama mencuci semua pakaian kami. Ya, mama selalu begitu setiap pagi. Ini masih jam 10, aku belum tergerak untuk bangun, habisnya akhir minggu, ngapain?

“Kamu ini! lagi-lagi lupa ya naruh permen karet di saku kemeja, lengket ni jadinya. Rusak lama-lama semua baju kamu.”

“Nggak apa-apa, Ma. Cuma baju.”

“Hmmm, kapan pameran lagi kamu?”

Aku beringsut meninggalkan mama sendiri.

“Tar ah Ma, hari minggu jangan ngomongin kerjaan dulu ya, Tara puyeng.”

Pernahkah kamu mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan random soal hidup?

Seperti, eksistensi kita di dunia?
Kenapa terlahir sebagai aku, bukan dia, atau mereka?
Kenapa aku terlahir dengan nama ini, bukan itu, atau yang lain?
Kenapa namaku Tara, bukan Angel atau Rara atau Wanda?
Kenapa hidupku seperti ini, bukan seperti mereka?
Kenapa kakiku berukuran segitu, bukannya lebih kecil atau lebih besar?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul tapi aku tidak menemukan jawaban apapun. Tidak ada yang bisa menjawab. Sampai suatu ketika seseorang datang…

“Kamu suka kopi?” tanyanya

“Tidak.”

“Suka teh?”

“Tidak juga.”

“Lalu? Mau minum apa nih?”

“Massss, air mineral satu ya.” Aku berteriak ke arah pelayan

“Oooh iya mba.” sahutnya

“Ye, kan mau aku pesenin.”

“It’s okay.”

Aku bertemu dia di tempatku bekerja freelance, aku seorang illustrator untuk Digital Agency tempatnya bekerja. Dia seorang content writer. Kami banyak terhubung karena pekerjaan, menghabiskan banyak waktu untuk membahas konten, kebetulan dia juga lebih sering bekerja remote.

Dia adalah seseorang yang rela memakaikan jaketnya padaku meski cuaca sedang dingin-dinginnya. Dia adalah seseorang yang rela membiarkan bahunya disandari meski sedang lelah-lelahnya.

Dia, teman yang cukup baik.

Beberapa minggu berlalu. Dia bercerita banyak hal menarik tentang hidupnya, dia bercerita tentang banyak hal yang dia coba, kenakalan-kenakalan remaja pada umumnya. Seperti bolos ketika sekolah, coba minum alkohol, sampai main ke tempat clubbing diam-diam.

“Kenapa kamu cobain itu semua? Kapan terakhir kamu minum alkohol?” Tanyaku.

“Seru aja, challenging, biar ngerasain aja, ada pengalaman, ada bahan obrolan sama temen-temen. Terakhir sebenarnya… beberapa bulan lalu sih.”

“Stupid.”

“Why? Baru kali ini ya kamu punya temen nakal?”

“Yap! Temenku lurus semua.”

“Coba deh, besok aku kasih wine, diminum ya.”

“Nope.”

“Why?”

“Ngga mau aja ada barang haram masuk tubuhku.”

“Ah, ngga seru kamu!”

“Emang. That’s the point of my self. Ngga seru.”

“Baper deh.”

“No. Males aja terlalu terbawa arus. Ngga punya prinsip.”

Dia mengetuk jemarinya di atas meja, lalu mengarahkan pandangannya padaku.

“Kamu, apa yang kamu tau soal hidup?”

“Membosankan.”

“Kenapa?” tanyanya, aku diam. Dia melanjutkan…

“Actually, kamu yang bikin hidupmu membosankan.”

“Kenakalan-kenakalan yang kamu lakukan itu efek bahagianya cuma sementara. Juga ngerusak mental health dan organ dalam kamu. So for what?”

Dia terdiam…

Aku meliriknya perlahan.

“Dion…”

“Ya?” sahutnya

“Kenakalan apa yang belum pernah kamu lakuin?”

Dia mengarahkan pandangannya padaku.

“Having sex with someone”

“WHAT? AHAHAHA”

“You did?”

“Belom. Itu juga efek bahagianya sementara. Percuma.”

“Hahaha…”

Kita tertawa dan mengobrol tentang banyak hal, tentang buku, tentang nomor sepatu,  hingga tentang berapa hari sekali dia memotong kuku.

Dia dengan hidupnya yang menyenangkan, aku dengan hidupku yang memuakkan. Cerita tentangnya seperti kaset yang tidak pernah habis pita, selalu menarik untuk didengar, tanpa perlu bumbu tambahan, tanpa perlu drama-drama tak berkesudahan. Dia menarik, dengan apa adanya dia.

Semakin hari, aku semakin merasa nyaman. Tidak terhitung lagi berapa lama aku menghabiskan waktu berdua dengannya. Berapa kilometer jauhnya jalan yang pernah kita tempuh berdua. Berapa banyak kerlingan mata saling curi pandang, berapa kali tangan kita tak sengaja bersentuhan dan berakhir canggung.

And now, I still hate people, but, God…

I love him.

Nyatanya aku jatuh cinta, sesimpel gigitan pertama pada cokelat favoritku. Candu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s